Jumat, 09 November 2012

INTERAKSI SOSIAL

Individu
Individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
A. PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL
1. Interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan antara perseorangan, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lainnya. Interaksi sosial merupakan kunci dalam sendi sendi kehidupan sosial karena tanpa berlangsungnya proses interaksi, tidak  mungkin terjadi aktivitas dalam kehidupan. Contohnya: apabila ada orang saling menegur, saling berkenalan dan mempengaruhi, hal tersebut disebut interaksi sosial. Menurut para ahli interaksi adalah:

  • Menurut Bonner, interaksi sosial adalah suatu hubungan antara 2 orang atau lebih sehingga individu yang satu mempengaruhi, mengubah, mempeerbaiki kelakuan individu yang lain dan sebaiknya.
  • Menurut  Young, interaksi sosial adalah kontak timpal balik antara 2 orang atau lebih
  • Menurut Taldcot Palson, interaksi sosial dipengaruhi oleh 2 macam orientasi yaitu orientasi motivasional dan orientasi nilai  nilai yang bersifat sosial.

B. MACAM MACAM INTERAKSI SOSIAL 
            Dilihat dari sudut subjek interksi dibagi 3 macam interaksi sosial yaitu: 
1. Interaksi antar orang perorangan
2. Interaksi antar orang dengan kelompoknya atau sebaliknya
3. Interaksi antar kelompok
               
Dilihat dari segi segi caranya ada 2 macam yaitu: 
1. Interaksi langsung (direct interaction) yaitu interaksi fisik seperti berkelahi
2. Interksi simbolik (symbolic interaction) yaitu interaksi dengan mengunakan bahasa (lisan/tertulis) dan simbol simbol lain (isyarat)

C. Manusia sebagai makhluk individu
Individu adalah manusia yang berdiri secara otonom yang mempunyai keunikan berbeda satu sama lain tetapi berkolerasi dengan yang lain dan harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya kepada Allah SWT. Individu terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. Individu dan lingkungan, yaitu individu yang berinteraksi dengan lingkungan.
  2. Individu dalam kehidupan sosial, yaitu individu yang berinteraksi dengan kehidupan dan kenyataan sosial.
  3. Individu dalam kelompok, yaitu individu sebagai penentu perilaku.

D. Pengertian keluarga dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat
Keluarga adalah satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat, juga merupakan faktor utama dalam proses terbentuk dan berkembangnya dalam suatu masyarakat. Keluarga merupakan unit satuan masyarakat terkecil sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Menurut Sigmund Freud, keluarga terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Secara umum dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan atau kelompok orang yang mempunyai hubungan darah dan perkawinan. Interaksi pertama yang dilakukan oleh individu yaitu dilakukan oleh individu yaitu di lingkungan keluarga. Fungsi keluarga sebagai wahana terjadi sosialisasi antara individu dengan warga yang lebih besar. Salah satu fungsinya adalah sosialisasi dan pendidikan, yaitu fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya dimasa yang akan datang.

E. Pengertian masyarakat suatu unsur dari kehidupan manusia
Masyarakat adalah sekumpulan manusia seperti hal dengan kelompok dengan jumlah yang lebih besar. Menurut beberapa para ahli masyarakat adalah: 
  • R. Liton mengatakan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup dan bekerja sama sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya tentang dirinya sebagai satu kesatuan dengan batas batas tertentu.
  • Menurut M. J. Herkovist, masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan.
  • J. L. Gilin dan JP mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.

Di dalam masyarakat terdapat unsur unsur masyarakat yaitu: 
  • Adanya kelompok manusia yang berinteraksi yaitu interaksi dalam kehidupan masyarakat diantara anggota masyarakat tersebut, yang berlangsung lama yang saling mempengaruhi untuk berinteraksi.
  • Adanya norma norma dan adat istiadat yaitu: dalam suatu masyarakat berlangsung tertib manakala norma norma yang ada diterapkan secara teratur sehingga adat istiadat yang khas menjadi pembela dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain.
  • Adanya identitas yang sama yaitu adanya identitas yang dimiliki oleh warga masyarakat bahwa mereka merupakan suatu kesatuan yang berbeda dengan kesatuan kesatuan yang lain.

F. Interaksi antara individu, keluarga dan masyarakat
Manusia adalah sebagai makhluk individu dalam arti tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raganya, oleh karena itu dalam proses perkembangannya perlu keterpaduan antara perkembangan jasmani maupun rohaninya. Sebagai makhluk sosial seorang individu tidak dapat berdiri sendiri, salin membutuhkan antar a yang satu dengan yang lainnya, dan saling mengadakan hubungan sosial di tengah tengah masyarakat.
Keluarga dengan berbagai fungsi yang dijalankan adalah sebagai wahana dimana seorang individu mengalami  proses sosialisasi yang pertama kali, sangat penting artinya dalam mengarahkuan terbentuknya individu menjadi seorang yang berpribad.
Masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan untuk mencapai tujuan bersama. Masyarakat adalah tempat kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai bagian keluarga, keluarga sebagai tempat terprosesnya, dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil proyeksi tersebut. Individu yang berada dalam masyarakat tertentu berarti ia berada pada suatu konteks budaya tertentu. Pada tahap inilah arti keunikan individu itu menjadi jelas dan bermakna, artinya akan dengan mudah dirumuskan gejala gejalanya. Karena disini akan terlibat individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk sosial sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat.
Manusia adalah makhluk sosial, yang mana mereka tidak bisa hidup sendiri didunia ini tanpa bantuan orang lain. Tuhan memberikan akal pada manusia, mempunyai akal pikiran dan untuk mengembangkan sistem sistem dalam hidupnya maka manusia menggunakan kemampuan akalnya. Mereka dalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia terbiasa hidup berkelompok atau biasa disebut dengan “zoon politicon”  yang artinya bahwa manusia itu adalah makhluk yang hidup bergaul dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.







PERANAN PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT


Secara kelasik masa muda merupakan masa yang paling menyenangkan. Pencarian jati diri dengan melakukan berbagai hal sesuai kehendak hati, kesenangan, sex bebas, narkotika, kenakalan dan lain-lain merupakan refleksi kelebihan energi yang bermuatan negative. Selama ini pemuda merupakan obyek dan bukan subjek bagi pembangunan. Sehingga hanya sebagai penonton dan penikmat hasil dari pembangunan. Hal ini terjadi karena ketidak percayaangenerasi tua terhadap generasi muda. Takut akan terjadi kegagalan dan sikap mengecilkan bukan suatu sikap yang membangun generasi muda menuju ke arah yang lebih baik karena hal itu dapat mengganggu perkembangan mental pemuda.
 Tidak adanya kesempatan untuk melakukan pembangunan menumbuhkan suatu perasaan yang membosankan dari diri pemuda. Kegiatan mengasingkan diri dan membentuk kelompok-kelompok preman serta melakukan kegiatan yang meresahkan bagi masarakat umum merupakan suatu cara mereka dalam menyalurkan energy. Dengan demikian tidak dapat di salahkan jika generasi muda yang berikutnya akan demikian. Sikap imitasi/meniru prilaku dari orang lain merupakan proses belajar. Maka lingkungan juga memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan setiap insan. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah dan lain-lain memiliki porsi yang berbeda dalam membentuk kepribadian anak. Misal seorang anak yang tinggal di lingkungan sekolah pasti memiliki kepribadian yang berbeda dengan anak yang tinggal dilingkungan pasar.
Padahal hakikatnya adalah bahwa Masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda, artinya merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa . Oleh karena itu mereka perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan dengan cara memberikan mereka pendidikan baik formal maupun informal, baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi. Pembangunan yang dilakukan oleh generasi muda merupakan rangkaian gerak perubahan menuju kemajuan. Didalam pembangunan nasional, bukan hanya pembangunan fisik saja yang diperlukan melainkan membawa mereka agar terciptanya perubahan sosial.
Dalam hubungannya dengan sosialisasi generasi muda khususnya mahasiswa telah melaksanakan proses sosialisasi dengan baik dan dapat dijadikan contoh untuk generasi muda.
 Pada garis besarnya, pemuda mempunyai peranan sebagai berikut :
1.      Agent of change  
Pemuda bertugas untuk mengadakan perubahan – perubahan dalam masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang bersifat kemanusiaan
2.      Agent of defelopment
Pemuda bertugas atau melancarkan atau melaksankan pembangunan di segala bidang, baik bersifat fisik maupun non fisik.
3.      Agent of modernization
Pemuda bertindak dan bertugas sebagai pelopor dalam pembaharuan. Maksudnya pemuda pemuda dapat memilih mana yang perlu diubah dan mana yang masih tetap dipertahankan.
            Jurang pemisah antar golongan akan musnah jika kita memandang semua golongan itu sebagai totalitas (orang tua, pemuda, anak-anak). Dengan demikian tidak ada pertentangan antara pemuda, orang dewasa (generasi tua) dan anak-anak, secara fundamental. Tidak ada generasi yang menganggap dirinya pelindung generasi sekarang atau yang akan datang. Semuanya bertanggung jawab atas keselamatan kesejahteraan, kelangsungan generasi sekarang dan yang akan dating.Kalaupun perbedaan dalam kematangan befikir, dalam menghayati makna hidup dan kehidupan ini semata-mata disebabkan oleh tingkat kedewasaannya saja. Melainkan perbedaan antara kelompok-kelompok yang ada, antara generasi tua dan generasi muda misalnya, hanya terletak pada derajat dan ruang lingkup tanggung jawabnya.





KASUS KERUSUHAN POSO

        AKHIR Oktober lalu, kaum terpelajar asal Poso dan Morowali yang berdiam di Sulawesi Tengah dan Jawa, khususnya yang menjadi anggota Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), dikejutkan oleh surat pimpinan gereja mereka ke Komisi I DPR-RI. Melalui surat bernomor MS GKST No. 79/X/2003, tertanggal 28 Oktober 2003, Pjs. MS  GKST, pimpinan gereja terbesar di Sulawesi Tengah itu mengusulkan penetapan  darurat sipil di wilayah Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali. Surat itu ditandatangani oleh Ketua I Majelis Sinode GKST, Pendeta Arnold R. Tobondo dan  Sekretaris I Majelis Sinode, Lies Sigilipu-Saino.
Hasil evaluasi akhir tahun yang dilakukan Yayasan Tanah Merdeka (YTM) sebuah LSM ternama di Sulwesi Tengah mengungkapkan jumlah korban tewas dan cedera akibat rentetan aksi kekerasan di daerah bekas konflik Poso sepanjang tahun 2005 meningkat tajam dibanding dua tahun sebelumnya. Sumber : Harian sore Mercusuar Palu
Dari sedikitnya 27 kasus tindak kekerasan yang terjadi sepanjang 2005 yaitu berupa penembakan 10 kasus, pembunuhan 4 kasus dan pengeboman 12 kasus, mengakibatkan korban meninggal dunia mencapai 31 orang dan luka-luka sebanyak 108 orang.
Arianto Sangaji, direktur YTM, kepada wartawan, Rabu (28/12) kemarin, mengatakan korban manusia terbanyak terjadi ketika dua bom berkekuatan dashyat mengguncang Tentena (kota kecil di tepian Danau Poso) pada 28 Mei 2005 yang mengakibatkan 23 orang tewas dan 97 lainnya cedera.

Disusul pembunuhan dengan cara mutilasi di kota Poso 29 Oktober lalu yang menewaskan tiga siswi SMA setempat dan mencederai seorang lainnya.
Ia menjelaskan, jumlah kasus tindakan kekerasan di wilayah Poso tahun 2005 itu beserta akibat yang ditimbulkannya jauh meningkat dibanding keadaan dua tahun sebelumnya.

Pada tahun 2003 misalnya, total tindakan kekerasan yang terjadi di sana hanya 23 kasus dengan mengakibatkan 11 orang tewas dan 16 luka-luka, serta tahun 2004 sebanyak 22 kasus dengan 16 orang meninggal dunia dan 20 cedera.
AKAR PERMASALAHAN:
(a). Faktor-faktor lokal:
a.1. Marjinalisasi terbalik:
Proses marjinalisasi terbalik antara penduduk kota Poso dan penduduk  pedalaman Kabupaten Poso, yang memperlebar jurang sosial antara penduduk asli dan  pendatang. Maksud saya, di pedalaman Poso tiga suku penduduk asli yang mayoritas  beragama Kristen – yakni Lore, Pamona, dan Mori – mengalami marjinalisasi di bidang  ekonomi, politik, dan budaya, sehingga dibandingkan dengan para pendatang, mereka ini merasa tidak lagi menjadi tuan di tanahnya sendiri. Tapi sebaliknya, di kota Poso – di lokasi di mana kerusuhan meletus dan perusakan paling parah terjadi – adalah para  turunan pendatang dari Gorontalolah yang paling mengalami marjinalisasi dibandingkan dengan penduduk asli yang bermukim di kota Poso, sebelum kerusuhan
1998-2000.
a.1.1. Marjinalisasi penduduk asli beragama Kristen di pedalaman Kabupaten Poso:
Mari saya jelaskan dulu proses marjinalisasi yang dialami oleh ketiga suku  penduduk asli yang beragama Kristen di pedalaman Kabupaten Poso. Pertama-tama,  marjinalisasi ekonomi mereka alami, sebagian juga karena strategi penginjilan oleh para  misionaris Belanda, yang kemudian diteruskan oleh GKST, yang tidak menumbuhkankelas menengah yang mampu berwiraswasta dan bersaing dengan para pendatang. Strategi pendidikan Zending dan kemudian GKST lebih mengfasilitasi transformasi  profesi dari petani ke pegawai (ambtenaar), baik pegawai pemerintah maupun pegawai gereja. Ini sangat berbeda dengan strategi penginjilan di Tana Toraja dan Minahasa, di mana sudah muncul banyak pengusaha tangguh berkaliber nasional.
a.1.2. Marjinalisasi dan radikalisasi migran Muslim di kota Poso:
Sebelum menggambarkan proses marjinalisasi dan sekaligus radikalisasi masyarakat migran Muslim di kota Poso, kita perlu lebih dulu mengenal keragaman  etnik penduduk kota Poso, serta pelapisan sosial yang ada sebelum kerusuhan 1998.
Keragaman etnik penduduk kota Poso, merupakan suatu keadaan yang sejak awal  ditolerir oleh Raja Talasa Tua (Nduwa Talasa ), penguasa adat terakhir kota Poso. Kata  sang raja dalam maklumatnya yang dibacakan di kantor raja Poso di kota Poso, tanggal

11 Mei 1947, jam 10 pagi:
Laut/Teluk Tomini tidak ada pagarnya
Laut/Teluk Tomini tidak ada pagarnya
Hai kamu orang Arab
Hai kamu orang Tionghoa
Hai kamu orang Jawa
Hai kamu orang Manado
Hai kamu orang Gorontalo
Hai kamu orang Parigi
Hai kamu orang Kaili
Hai kamu orang Tojo
Hai kamu orang Ampana
Hai kamu orang Bungku
Hai kamu orang Bugis – orang Wotu
Hai kamu orang Makassar

Jika kamu tidak menaati perintahku kamu boleh pulang baik-baik ke kampung
halamanmu karena Tana Poso tidak boleh dikotori dengan darah
(Damanik 2003: 41).
Sementara itu, dari sudut sosial-ekonomi, masyarakat kota Poso dapat dibagi
dalam tiga kelas, yakni (a) kelas bawah lama; (b) kelas menengah lama; (c) kelas ataslama. Kelas bawah lama terutama terdiri dari keturunan para migran Gorontalo yang
mayoritasnya bermukim di Kelurahan-Kelurahan Lawanga, Bonesompe, dan Kayamanya. Profesi mereka kebanyakan adalah nelayan dan buruh pelabuhan, yang  mengalami marjinalisasi karena pergantian kekuasaan politik nasional tahun 1965-1966  dan agak lama kemudian, pembangunan Jalan Trans-Sulawesi.
Kelas menengah lama  terutama terdiri dari komunitas-komunitas asli Poso, Mori, dan Minahasa, yang
kebanyakan terdiri dari para birokrat yang masih tetap juga berkebun di tanah-tanah mereka di seputar pemukiman mereka. Sedangkan kelas atas lama terdiri dari kaum  usahawan berdarah Arab dan Tionghoa.
APA YANG HARUS DILAKUKAN?
(a). Menolak penetapan status darurat sipil bagi daerah Poso dan Morowali.
(b). Secara konsepsional, mulai membedakan militer (TNI) dan polisi, baik institusinya maupun tugas dan cara operasionalnya, sehingga masyarakat luas tidak lagi selalu menganggap kedua kekuatan bersenjata itu mempunyai fungsi yang sama. Dalam  sebuah negara yang demokratis dan menganut supremasi sipil, polisi adalah bagian dari  pemerintah sipil, berada di bawah komando kepala-kepala daerah, dan tugasnya adalah  menegakkan keamanan dalam negeri (internal security ). Sedangkan militer berada di
bawah komando Presiden sebagai Kepala Negara, dan hanya bertugas mempertahankan negara dari serbuah musuh, tanpa diembel-embeli fungsi-fungsi  politik dan ekonomi, seperti yang sekarang masih kita lihat di negara kita.
(c). Menarik pasukan-pasukan TNI/Angkatan Darat dan Brimob dari daerah Sulawesi  Tengah bagian Timur, baik pasukan yang beroperasi secara terbuka, maupun pasukan- pasukan yang beroperasi secara terselubung.
(d). Memprioritaskan pemanfaatan tenaga Polisi untuk pengamanan di daerah  kerusuhan, dengan meningkatkan profesionalisme mereka dalam menghadapi gejolak,  unjuk rasa, dan bentuk-bentuk kerusuhan sosial lainnya dengan teknik pengendalian huru hara tanpa membunuh.
(e). Menggalakkan pendekatan antara calon penanam modal dengan rakyat setempat dengan menghormati hak-hak rakyat – baik penduduk asli, petani pendatang  (transmigran), penduduk di kawasan pemukiman setempat, maupun buruh -- , tanpa  pendekatan keamanan, yakni menakut-nakuti rakyat dengan intervensi militer berupa latihan perang-perangan, unjuk kekuatan fisik (show of force ) yang selama ini dilakukan  di Sulawesi Tengah bagian Timur, khususnya di Kabupaten Banggai.
Berikut foto-foto korban kerusuhan poso

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfo8kit0VjELdaE32ErvAdkaSyPSvFYsSdeClGkMQPaS02oADt0khQ_3I6lv01xAICOehclnmpnZR_mT78rggBQkEWt3Jagpxta6RCUJ2qzE644bXI-boSimH6gX9aD2kU2O4YeAg4Fe0/s1600/images.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEho1_QyggKmuFgocU9M3QapBjUoeg4PloM5wMoa_evRsGRhRmIRGh9MYdIoGVe2VosSdF5-hm8zrqXAtAAlHOdfBa8aemhANEHDWLzNbEspQ7MovOD_7mOz9WH49DP-T3GzLEpunynTGPk/s320/poso04ed1.jpg


ISD


Ilmu sosial dasar adalah salah satu mata kuliah dasar umum yang merupakan matakuliah wajib yang diberikan di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Tujuan diberikannya mata kuliah ini adalah semata-mata sebagai salah satu usaha yang diharapkan dapat memberikan bekal kepada mahasiswa untuk dapat peduli terhadap masalah – masalah sosial yang terjadi dilingkungan dan dapat memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial dasar.
Untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari, maka lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan. Ilmu Sosial Dasar merupakan ilmu analisis atas aneka fenomena sosial masyarakat dengan segala dinamika dan implikasinya dari sudut pandang kajian dasar falsafah keilmuan.  Sudah bukan rahasia lagi bahwa segala bentuk kebudayaan, tatanan hidup, dan sistem kemasyarakatan terbentuk karena interaksi dan benturan kepentingan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sejak zaman prasejarah hingga sejarah, manusia telah disibukkan dengan keterciptaan berbagai aturan dan norma dalam kehidupan berkelompok mereka. Dalam berbagai keterciptaan itulah ilmu pengetahuan terbukti memainkan peranan yang signifikan.
Secara Spesifik kemampuan pribadi yang hendak di capai melalui Mata Kuliah Dasar Umum bertujuan menghasilkan warga negara sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut :
1.        Taqwa kepada tuhan yang maha esa , bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memilki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
Agar kita selalu senantiasa bertakwa menjalani perintah sesuai dengan ajaran Tuhan nya masing-masing, tidak melakukan hal apa pun yang melanggar perintah Tuhan, dan berusah bersikap sebaik mungkin terhadap sesama orang lain walaupun berbeda agama. Karena memilih tuk memeluk agama itu ialah hak tersendiri dan sebaik-baiknya umat ialah saling menghargai sesama.
2.        Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan nilai-nilai pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia.
Berjiwa nasionalisme, mementingkan kepentingan bersama dari pada kepentingan diri sendiri, mengutamakan hal yang lebih baik untuk umum dari pada untuk pribadi. Diharapkan untuk bisa bersikap sesuai dengan butir-butir pada Pancasila, agar apa pun yang akan dilakukan itu mencerminkan suatu nilai yang baik dan tidak sampai melakukan perbuatan yang salah.
3.        Memiliki wawasan sejarah perjuangan bangsa, sehingga dapat memperkuat semangat kebangsaan, mempertebal cinta tanah air, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertinggi kebanggan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia.
Banyak dari kita pada saat ini tidak begitu memahami akan sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada saat dahulu. Karena yang dirasakan saat ini Indonesia sudah merdeka tanpa banyak yang tahu bagaimana sejarah nya untuk mencapai kemerdekaan tersebut. Diharapkan kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia agar mengetahui betul sejarah bangsa ini untuk meningkatkan kecintaan terhadap negeri ini dan mempertebal rasa nasionalisme terhadap sesama.
4.        Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalahan kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, pertahanan keamanan maupun kebudayaan.
Saat ini banyak orang yang mudah putus asa menyikapi kenyataan hidup, mereka terlebih berdiam dengan keadaan yang diterimanya saat ini, tanpa ada rasa untuk bangkit menjadi manusia yang lebih baik. Semua itu dikarenakan ilmu pengetahuan nya yang rendah, kurang nya asupan pendidikan pada waktu usia dini. Untuk itu diharapkan pendidikan dapat merata diseluruh pelosok negeri. Agar masyarakat memiliki wawasan yang baik dalam menyikapi segala permasalahan yang akan datang.
5.        Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama sama mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya, maupun tentang lingkungan alamnya secara bersama sama serta di dalam pelestariannya.
Tidak hanya wawasan umum, pengetahuan terhadap budaya negeri sendiri pun sangat diperlukan, agar tidak hilang kebudayaan-kebudayaan yang sudah ada karena perubahan jaman yang semakin modern.
Dalam perkuliahan Ilmu Sosial Dasar sebagai bagian dari mata kuliah dasar umum adalah hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan tersebut dapat mewujudkan adanya kenyataan kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial dan inilah yang menjadi pusat perhatian dari Ilmu Sosial Dasar dan yang penelaahannya menggunakan pendekatan berbagai disiplin (interdisiplin dan atau multidisiplin) dengan memanfaatkan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari lapangan ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, ekonomi. Ilmu sosial dasar tidak merupakan gabungan dari ilmu sosial dasar yang dipadukan, karena ilmu sosial dasar tidak memiliki objek dan metode ilmiah tersendiri dan juga tidak mengembangkan suatu penilitian sebagaimana suatu disiplin ilmu seperti ilmu-ilmu sosial diatas.

Tujuan Ilmu Sosial Dasar
Sebagai salah satu dari mata kuliah dasar umum ilmu social dasar mempunyai tujuan pembinaan mahasiswa agar:
1.        Memahami dan menyadari kenyataan sosial dan masalah yang ada didalam masyarakat.
2.        Peka terhadap masala sosial dan tanggap untuk ikut dalam usaha menanggulanginya.
3.        Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat slalu bersifat kompleks dan hanya mendekatinya dan mempelajarinya secar kritis dan interdisipliner.
4.        Mahasiswa memiliki kesiapan untuk menekuni dunia keilmuan.
5.        Mahasiswa bisa mengerti dan memahami prinsip filsafaat ilmu sebagai landasan.